Bersepeda di Matsuyama Jepang


Bersepeda merupakan ketrampilan penting di Jepang

Bersepeda merupakan ketrampilan penting di Jepang

Topografi Kota Matsuyama relatif datar. Perbukitan yang membentang mengelilinginya semakin mempercantik kota ini. Mobil dan sepeda merupakan 2 moda transportasi yang paling banyak diminati masyarakat di sini. Mobil second tersedia dengan harga murah. Hanya saja harga bensin di sini sekitar 140 Yen/liter (Rp 14.000) dan naik turun menyesuaikan harga pasar setiap HARI. Jauh lebih mahal dibandingkan Indonesia, karena tanpa subsidi.Β  Walau harga mobil murah, namun mendapatkan SIM di Matsuyama bukanlah perkara mudah. Sedangkan bagi yang ingin menukarkan SIM Indonesia ke SIM Jepang juga ada prosedur tersendiri. Belum lagi biaya perpanjangan STNK mobil besarnya bisa mencapai beberapa kali lipat harga mobilnya.

Di Kota Matsuyama penikmat sepeda menempati urutan kedua setelah mobil. Usia dan pekerjaannya pun beragam. Seringkali saya berpapasan dengan orang kantoran yang berjas dan berdasi lengkap, anak sekolah, ibu rumah tangga, patroli polisi, dll. Berburu sepeda di sini tidaklah sulit. Kalau harus yang baru, sekitar 12.000 Yen (sekitar Rp 1,2 juta) atau lebih. Namun, bila kocek terbatas, sepeda bekas pun mudah didapatkan. Masih layak pakai kok. Barang-barang bekas di sini masih terawat baik. Jangan khawatir masih dapat digunakan. Tidak hanya sepeda, bahkan juga barang-barang kebutuhan sehari-hari lainnya. Cukup dengan 500 yen, kita pun sudah punya sepeda. Hanya saja, perlu sedikit uang tambahan disiapkan untuk biaya registrasi sepeda. Semua sepeda di sini teregistrasi. Jadi ada nomor registrasinya. Dengan nomor ini sangat mungkinkan, bila sepeda kita hilang, maka dengan mudah pihak yang menemukannya akan mengembalikan kepada pemiliki yang sesungguhnya. Nah, untuk kepeluan registrasi Pemkot Matsuyama mematok 500 yen untuk 1 sepeda.

Gimana ya bersepeda di Jepang“, begitu kira-kira saat awal saya mencoba sepeda di Matsuyama. Bukannya belum bisa naik sepeda, tetapi khawatir saja jangan-jangan ditilang gara-gara tidak tahu aturan. Maklum denda di sini cukup mahal. Teman saya dari Laos diharuskan membayar 2000 yen hanya karena salah memarkir sepedanya. Sampai sekarang dia justru membeli lagi sepeda second daripada membayar denda sebesar itu. Setelah 4 hari dijemput dan sempat naik taksi, hari ke-5 kucoba naik sepeda ke kampus. Ternyata bersepeda di kota ini menyenangkan. Mobil dan kendaraan umum seperti taksi dan bis kota selalu mendahulukan penikmat sepeda dan pejalan kaki. Lalu lintas pun bergerak secara teratur dan disiplin. Pada dasarnya aturan bersepeda hampir sama dengan naik mobil. Jalan yang dilalui sama. Hanya sepeda menempati jalur tepi dari jalan raya. Seringkali jalur bersepeda juga disediakan bersama dengan para pejalan kaki. Disediakan tanda khusus untuk itu. Bila bersepeda pada malam hari, wajib menyalakan lampu guna keamanan dan kenyamanan berlalu lintas. Bila hari hujan, dilarang bersepeda sambil menggunakan payung. Berboncengan naik sepeda juga dilarang. Keranjang dan boncengan sepeda pada prinsipnya adalah untuk membawa barang bukan untuk membawa orang. “Namun demikian, memboncengkan anak-anak masih ditoleransi di sini”, kata seorang teman yang sudah 10 tahun tinggal di Matsuyama. Saya sendiri pun beberapa kali melihat ibu-ibu dengan anaknya di keranjang depan atau belakang. Mungkin seusia 2-5 tahunan.

Selain aturannya jelas, Pemkot Matsuyama juga menyediakan fasilitas jalan sepeda yang relatif memadai. Memang pada beberapa penggal jalan saya masih menjumpai jalur sepeda yang lebarnya kurang dari 1 meter. Namun secara umum kita patut belajar tentang ini. Jalan sepedanya lebar, rambu dan marka sepeda juga tersedia. Ketika menyeberang jalan ada lampu pengatur lalu lintas bagi para penikmat sepeda. Kalau merah, sesepi apapun ya .. harus berhenti dan bersepeda lagi setelah berubah hijau.

Hingga kini, tentang sepeda ini ada satu hal yang masih mengganjal di hati saya. Terkadang membuat saya khawatir. Penambal ban di sini belum pernah saya jumpai. Kata orang ada, tapi saya sendiri belum pernah melihatnya, tidak seperti di Yogyakarta. Kalau pentil dan ban dalam sepeda, saya sudah pernah membelinya di toko 100 yen. Pompa sepeda juga banyak tersedia di Matsuyama. Toko sepeda ada beberapa.Β  …Β  Nah, bagi para penikmat sepeda, mari kita bersepeda lagi. Sudah sehat, murah, nyaman lagi πŸ™‚

6193 x dibaca πŸ™‚ Sahabat punya cerita di tempat lain, yuk kirimkan artikelnya via email ke berita@sekolahjepang.com.

Share SHARE

Rajin Membaca Pangkal Pandai, silahkan Sahabat :

Agama punya Kitab Suci, Prefecture Jepang punya aturan
Atus dan Sakura: saat awal menapak Jepang
Mensyukuri Indonesia KITA (buah dan sayur)
Kota Matsuyama: hijau dalam pelukan bukit Pulau Shikoku Jepang
Hutan Shikoku di Taman Nasional Ashizuriuwakai Jepang
Happy Idul Adha 1429 H di Ehime
Petik jeruk Jepang di Muchachaen
Berapa lamakah ber-SEPEDA di Matsuyama?
Hebatnya kereta api Jepang
PLTN, gempa dan tsunami Sendai jauh dari Matsuyama
Mobil ambulan Jepang di Kota Matsuyama, Provinsi Ehime
Bahaya kafun: alergi serbuk sari (polen) pohon sugi Jepang (θŠ±η²‰η—‡)
Bagaimanakah Kereta Bochan Berbalik dan Parkir di Dogo?
Pilihan moda transportasi dari Kansai ke Ehime setelah 18:20 JST
Budaya dan Perubahan Iklim: Festival Mekarnya Bunga Sakura dan Pengetahuan dan Sikap Para Pemangku K...
Angket Sakura: Adakah Bunga Sakura Tandingan dari Indonesia?
Dingin Pamitan Sambut Jepang Full Mentari
Ini Dia 6 Bunga Indah Indonesia Penantang Bunga Sakura (Hasil Sementara)
Jamus Photo Contest 2016