Hebatnya kereta api Jepang


SekolahJepang.com, Akhir tahun 2008 lalu, bersama beberapa kensusei (WNI yang kerja magang di Jepang) saya mencoba naik Japan Railway (JR) dari Kure menuju Osaka. Selain JR, jurusan antar kota juga dilayani oleh kereta cepat shinkansen. Ada juga chikatetsu yang spesialis kereta bawah tanah dan kintetsu yang hampir mirip JR, namun nampaknya hanya khusus dalam kota. Saya sangat beruntung waktu itu, karena teman-teman kenshusei, seperti mas Firman (Solo), mas Udin (Barru, Sulawesi), dan mas Safril (Lampung) telah mengajari saya banyak hal. Seperti: (1) cara menggunakan mesin pembelian tiket kereta api secara prasmanan (2) cara melewati pintu masuk ke dalam areal stasiun (video), (3) membaca papan informasi jadual kedatangan kereta dan (4) mengartikan pengumuman yang disampaikan selama di dalam kereta. Tentu kesempatan ini sangat berharga bagi saya. Learning by doing. Hampir tanpa kesalahan, karena didampingi langsung.

Pada setiap liburan musim dingin JR menerbitkan tiket murah “ju-hachi-kippu“. Sekilas terbalik dengan kondisi di Indonesia. Saat musim liburan tiba, seperti lebaran, justru para pemilik angkutan umum menaikan tarif angkutannya. Sedih memang mengingat-ingatnya. Dengan ju-hachi-kippu seharga 11.500 yen atau sekitar Rp 1,2 juta penumpang akan memperoleh selembar tiket yang dapat digunakan selama 5 hari nonstop, ke manapun tujuannya di seluruh Jepang. Pemakaiannya tidak harus berturut-turut. Setiap kali digunakan, ju-hachi-kippu akan di cap oleh petugas JR di pintu masuk stasiun. Satu cap untuk satu hari. Sehingga rata-rata penumpang membayar 2.300 yen/hari atau Rp 240.000-an/hari. Padahal di hari-hari biasa, dari Kure ke Fukuyama saja sudah 1620 yen, belum lagi sampai Osaka atau bahkan Tokyo dan tujuan lainnya.

Catatan kecil yang saya peroleh selama beberapa kali menaiki JR adalah (1) kebersihan kereta begitu terjaga. Tidak nampak corat coret di tembok dan sampah berserakan. Orang tidur di lantai kereta pun belum pernah saya lihat (video); (2) tepat waktu. Saya pun belajar banyak tentang hal ini. Pintu kereta akan segera menutup pada waktu yang terjadual. Telat 1 menit saja, niscaya kita hanya akan melihat kereta yang akan kita naiki sudah mulai berjalan; (3) barang tertinggal relatif tetap selamat. Saya menyaksikan sendiri tas teman kensusei saya yang tertinggal masih tetap utuh diterimanya dari petugas kereta api. Dalam hal ini penumpang harus segera melaporkan kejadiannya: perjalanannya dari mana kemana, jam berapa, ciri-ciri barang yang hilang, letak terakhir di gerbong berapa, dll. (4) koordinasi antar kereta yang sangat cantik. Berganti kereta tentu memerlukan koordinasi yang sangat tepat. Di Jepang berganti kereta merupakan hal biasa. Minimal ada 2 alasan, yakni menyesuaikan tujuan dan/atau menyesuaikan kecepatan kereta, seperti JR lokal dimana akan selalu berhenti di setiap stasiun, JR rapid yang hanya berhenti di stasiun terpilih.Β  Sehingga sangat memungkinkan bagi penumpang yang tinggal di pinggir kota akan memilih JR lokal, karena dapat berhenti di stasiun yang dekat tempat tinggalnya. Sebaliknya bagi penumpang sibuk akan memilih rapid atau super rapid yang tidak selalu berhenti, karena mengejar waktu.

Setelah naik JR sampai Osaka, di Kota Osaka saya juga mencoba chikatetsu dan kintetsu. Chikatetsu bermarkas di dalam tanah. Penumpang harus memasuki stasiun bawah tanah bertingkat. Bisa jadi 3 hingga 4 lantai ke bawah tanah. Gelap gulita di luar akan menghiasi perjalan chikatetsu.Β  Adapun kintetsu biasanya melayani jalur-jalur lain yang tidak ada pelayanan JR.

Secara umum, menggunakan jasa kereta api di Jepang begitu mengesankan. Walaupun ada banyak operator pelayanan jasa kereta api, namun mereka terkoordinasi dengan rapi. Fasilitas pun tersedia dengan sangat memadai dan modern, termasuk jalur rel berupa terowongan menembus pegunungan, jalur rel kereta di bawah jembatan antar pulau besar (video), serta jalur rel tinggi dengan tonggak-tonggak penyangganya πŸ™‚

Penulis:Β Atus Syahbudin

 

4991 x dibaca πŸ™‚ Sahabat punya cerita di tempat lain, yuk kirimkan artikelnya via email ke berita@sekolahjepang.com.

Share SHARE

Rajin Membaca Pangkal Pandai, silahkan Sahabat :

PPI AIDAI (komsat Ehime University), Korda Shikoku, Jepang
Kota Matsuyama: hijau dalam pelukan bukit Pulau Shikoku Jepang
Mereka TIDAK MENJARAH saat gempa Jepang terjadi
Lomba Video klip 15 detik: 'From Indonesia with Love: Ganbare Nippon!'
Buat Kartini Indonesia: "Ibu Jepang dilarang sakit!"
Bagian dalam kapal selam Kure di Hiroshima
Pesta Kembang Api (HANABI) Mitsuhama 2011 (5)
Pemeriksaan Tiket Kereta Shiokaze Jepang
Menikmati Sholat Idul Fitri 1432 H di Jepang
Jerapah Raksasa di Sirkus Jepang
Kotak Informasi Kota Matsuyama
Pertokoan Dogo Matsuyama
Kamar Ozu Youth House
Tinta Kaligrafi Jepang (shodo, Japanese calligraphy)
Dadio Gurune Jagad in Japanese Kanji
Pelangi Karora 102 Matsuyama
Musholla Matsuyama Islamic Culture Center (MICC) Jepang
Yel-yel Undokai (class meeting) Jepang
Parade Omikoshi Dogo Festival 2011
Bagus mana pendidikan Jepang atau Finlandia? (Bagian I)
Bagus mana pendidikan Jepang atau Finlandia? (Bagian II)