Update segera data PPI dan Kenshusei, sebelum Gempa Jepang datang lagi!

gempa Jepang 2011 via PPI Jepang & kenshusei Jepang
Banner Gempa PPI Jepang 2011

Ternyata benar juga. Setelah lama kita dikejar-kejar update data dan data. Kemarin terbuktilah sudah. Kita dihantam gempa dan tsunami Jepang yang begitu besar. Media di Indonesia pun segera menyiarkannya secara gencar dan membuat panik keluarga Indonesia yang memiliki famili yang tinggal di Jepang. Milis dan halaman facebook tak kalah dahsyatnya. Bertanya tentang nasib kenshusei dan mahasiswa Jepang? Saya kira ini bukan yang terakhir kali, karena negeri ini rawan akan gempa. Lho, terus apa kaitannya dengan update data PPI dan kenshusei? Sahabat semuanya tentu sudah tahu bukan bahwa WNI bukanlah pemilik negeri yang sebentar lagi akan berbunga sakura. WNI, baik PPI ataukah pekerja magang (kenshusei), adalah para pendatang. Yang datang dan pergi silih berganti. Adakalanya 1 bulan, 3 bulan, 2 tahun bahkan 5 tahun, dll. Siapakah yang mengetahui dan bertanggung jawa atas hilir mudiknya WNI di negeri ini? Iya memang betul, beliaulah KBRI dan KJRI. Kedutaan Besar RI di Tokyo dan Konsulat Jenderal RI di Osaka.  Sejauh ini mekanisme wajib lapor kedatangan bagi WNI telah berjalan dengan baik. Bagi mahasiswa masih plus wajib lapor di Atase Pendidikan KBRI Tokyo guna keperluan Departemen Pendidikan RI.

Permasalahan muncul kemudian manakala tidak ada ketertiban dalam pelaporan. Padahal mahasiswa A telah menempati apartemen yang baru dengan alamat yang berbeda dengan yang telah dilaporkan, sedangkan kenshusei B beberapa minggu lalu sudah pulang kampung, balik ke Indonesia, namun belum sempat melaporkannya ke KJRI. Nah, di sinilah letak pentingnya update data dan keberadaan satuan terkecil komunitas WNI di Jepang. Bagi para mahasiswa, Jepang memiliki hampir ratusan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) tingkat komisariat yang membawahi satu universitas. Di tingkat regional, beberapa PPI komisariat bergabung dalam satu koordinator daerah (PPI korda) dan akhirnya  bermuara di Pengurus Pusat PPI Jepang. Rekan kenshusei juga demikian. Mulai dari perhimpunannya di satuan perusahaan masing-masing hingga level tertinggi di seluruh Jepang. Tentu semua berharap semoga data mengenai WNI di Jepang telah dimiliki oleh satuan-satuan terkecil ini, baik di PPI Jepang tingkat komisariat maupun kenshusei di suatu perusahaan.

Mari kita buktikan! Cukupkah data yang telah dihimpun selama ini?

Sebagai mantan ketua komisariat, saya pun belum yakin sepenuhnya: apakah data yang saya miliki sudah benar-benar cukup. Sebagai contoh dalam konteks gempa dan tsunami Jepang saat ini ketika ternyata jaringan telepon seluler di sekitar Tokyo dapat putus; kereta dan Shinkansen bisa berhenti; listrik padam di sebagian Tokyo; genangan air dan salju musim dingin masih juga enggan pergi. Kami, sesama pengurus PPI di tingkat korda dan pusat, kemarin mengandalkan data dan data untuk langkah evakuasi selanjutnya. Siapa saja yang masih tersisa di Sendai?

“Perlukah kami masuk Sendai untuk menolong?  Apa saja yang diperlukan?” tulis seorang rekan PPI.

“Tidak perlu, karena kereta mati, getaran gempa masih terasa” sahut rekan di Sendai via online. “Saat ini kami sudah di pengungsian”, lanjutnya.

“Bagaimana kabar si A, kabar Prof. W, dll,” beberapa pertanyaan lain muncul di milis PPI Jepang.

Pertanyaan yang manusiawi dikala bencana telah benar-benar menyapa. Belum cukupnya data yang dimiliki oleh pihak di luar korban bencana menjadi salah satu penyebab keterbatasan dalam menjalin komunikasi, termasuk informasi tentang keluarga di Indonesia yang dapat dihubungi. Untung saja, kuatnya kerja sama antara sesama warga dan pengurus PPI Jepang di semua level, KJRI dan KBRI telah membuahkan hasil dalam tempo cepat.  Milis PPI Jepang dan media sosial lainnya telah menjadi ujung tombak dalam koordinasi dan saling melengkapi data yang terlewatkan. Kini kita boleh menghela nafas sejenak, karena sementara ini belum jatuh korban di pihak WNI. Sambil meneguhkan komitmen bahwa gempa dan tsunami Jepang harus mampu menguatkan barisan Pelajar Indonesia di Jepang.

Penulis:

atus syahbudin dosen kehutanan ugm, sekolah di jepang, mahasiswa universitas ehimeAtus Syahbudin, Ketua PPI Jepang Korda Shikoku 2010/2011, senang berkebun dan berinteraksi 🙂 dengan berbagai logo you tube sekolah di jepangtwitter_logo sekolah jepang atus syahbudin facebook-logo FBkomunitas. Semoga Sahabat berkenan silaturohim >

1764 x dibaca 🙂 Sahabat punya cerita di tempat lain, yuk kirimkan artikelnya via email ke berita@sekolahjepang.com.

Share SHARE

Rajin Membaca Pangkal Pandai, silahkan Sahabat :

PPI AIDAI (komsat Ehime University), Korda Shikoku, Jepang
Persiapan sekolah dan tinggal di Jepang
Happy Idul Adha 1429 H di Ehime
PPI Aidai (Ehime University) dalam lensa 2008
Gempa Jepang 8,8 SR (Press Release KJRI Osaka)
Ini dia daftar nama WNI dan tempat pengungsian gempa Jepang 2011
Merasakan Gempa Jepang 2011
PLTN, gempa dan tsunami Sendai jauh dari Matsuyama
Say YES to 'GAMBARU!' Ya, mari terus berjuang!
Mereka TIDAK MENJARAH saat gempa Jepang terjadi
Mengapa saya (masih) bertahan di Tokyo; TIDAK khawatir nuklir Jepang
5 Alasan TIDAK PERLU panik menghadapi level bahaya 5 nuklir Jepang
Lomba Video klip 15 detik: 'From Indonesia with Love: Ganbare Nippon!'
Belajar (lagi) musyawarah untuk mencapai mufakat di PPI Aidai
Villa PORMAS PPI Jepang 2011 di Tokushima
30 foto TSUNAMI Jepang, 11-3-2011: sebelum dan sesudah
Ramai-Ramai Hamil Muda di Jepang
Pengurus Baru Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Bisa Apa dalam 2 Bulan?
HUT RI ke-68 & Andil Diaspora Indonesia di PPI Jepang
Ini Dia Panduan PPI Jepang saat Misil Balistik Korut Menghantam
3 Alasan Memilih Ehime University