Bagus mana pendidikan Jepang atau Finlandia? (Bagian II)

Karakteristik Sistem Pendidikan Finlandia


2. Tidak Ada Ujian Standar

Menurut Sahlberg, Amerika (dan negara lain yang menerapkan kapitalisme di sistem pendidikannya, termasuk Indonesia, menurut saya) selalu terobsesi dengan pertanyaan berikut: Bagaimana cara memantau kinerja siswa jika tidak diuji secara konstan? Bagaimana bisa meningkatkan pengajaran jika tidak ada pertanggungjawaban ke guru-guru yang payah atau tidak memberikan penghargaan pada guru yang baik? Bagaimana cara menciptakan kompetisi dan melibatkan sektor swasta? Bagaimana cara menciptakan variasi pilihan sekolah kepada orang tua/pelajar?

Jawaban dari realita Finlandia tampaknya bertentangan dengan mindset orang Amerika ataupun para reformis pendidikan lainnya.

Finlandia tidak memiliki ujian nasional pada tiap jenjang pendidikan. Yang ada hanyalah Ujian Matrikulasi Nasional yang diambil pada jenjang sekolah menengah atas yang bersifat ‘sukarela’. 

Wajib belajar di Finlandia sendiri adalah antara usia 7 – 16 tahun. SD 6 tahun, SMP 3 tahun. Setelah lulus SMP, siswa memiliki pilihan: 1. boleh langsung masuk dunia kerja atau 2. masuk sekolah persiapan profesi atau gimnasium (sekolah menengah atas). Sekolah menengah atas ini setara dengan jenjang SMA di Indonesia. Lulusan sekolah menengah atas ini nantinya bisa lanjut lagi ke politeknik ataupun universitas. Pada intinya, tidak ada UN SD dan SMP. Dan mungkin UTS dan UAS lainnya.

3. Besarnya Tanggung Jawab Guru

Kalo ga ada ujian, bagaimana cara mereka mengukur kinerja pendidikannya? Guru-guru di sekolah negeri Finlandia mendapatkan pelatihan khusus untuk dapat menilai siswa satu kelas menggunakan tes independen yang mereka ciptakan sendiri. Semua anak mendapatkan kartu rapor tiap akhir semester, tapi rapor ini berdasarkan penilaian individu oleh tiap guru. Secara berkala, Menteri Pendidikan memantau kemajuan nasional dengan menguji beberapa sampel kelompok dari sekolah yang berbeda.

Sistem ini memungkinkan dihasilkannya penilaian yang sangat spesifik ke kemampuan tiap individu siswa. Bukan sistem penilaian umum yang mungkin kurang dapat menjangkau kemampuan spesifik tiap siswanya. Guru dapat mengeluarkan kreatifitasnya untuk memberikan perhatian khusus ke tiap siswa. Guru jadi punya tanggung jawab dan peran yang lebih besar. 

Kadang seorang guru tahu apa yang harus dilakukan untuk membantu siswanya tapi dibatasi oleh sistem sekolah yang menyatakan bahwa lebih penting untuk bergerak lanjut mengikuti kurikulum yang ada daripada memperlambat “hanya demi” siswa-siswa yang membutuhkan waktu tambahan dalam menerima pelajaran. 

Guru dan staf administrasi sekolah di Finlandia memiliki martabat/gengsi yang tinggi, gaji yang layak, dan banyak tanggung jawab. Gelar Master (S2) diperlukan untuk menjadi guru. Program pelatihan guru di Finlandia adalah salah satu sekolah profesional yang paling selektif di negara ini. Jika terdapat guru yang performanya buruk, tanggung jawab kepala sekolah untuk menangani hal tersebut.

4. Kurikulum yang Fleksibel

Sistem sekolah Finlandia tidak menegakkan kurikulum di mana setiap sekolah “harus mengajarkan kurikulum yang sama dengan metode yang sama pada jadwal yang sama.” Kementerian Pendidikan meluncurkan “Kurikulum Dasar” yang fleksibel, semacam panduan umum mengenai mata pelajaran apa yang harus diajarkan dan tujuan yang harus dicapai di setiap tingkat kelas. 

Kurikulum Dasar ini berlaku sebagai dasar untuk setiap sekolah saat mereka mempersiapkan kurikulum sendiri, di mana mereka dapat berkreasi menekankan pada pedagogi tertentu, nilai tertentu (misalnya, sekolah hijau), keterampilan (seni, olahraga, bahasa), atau isu-isu lokal (misalnya, sekolah multikultural).

Setiap kelas difasilitasi hingga 3 orang guru. Apa yang guru pendidikan pelajari dari universitas memberi mereka berbagai macam metode pengajaran yang dapat digunakan sesuka mereka. Keanekaragaman dipandang sebagai kekuatan yang nyata dengan tidak mengisolasi siswa yang berbakat (dan/atau yang kaya) ke sekolah swasta seperti yang terjadi di Amerika atau di Indonesia, di mana kebanyakan siswa pintar dan kaya akan lebih cenderung masuk sekolah swasta bergengsi.

Para pelajar di Finlandia sangat menikmati belajar, selalu rindu sekolah, tidak rela tidak sekolah hanya karena libur ekstra atau sakit. Bisa dikatakan guru lah kunci keberhasilan dari sistem sekolah Finlandia, dan individualitas yang diperbolehkan dalam kelas. Para guru melihat siswanya sebagai individu dengan kebutuhan yang berbeda: fokus pada masing-masing anak dan kekuatan serta masalah tiap anak.

Silahkan melihat suasana belajar di kelas sekolah Finlandia dalam video ini:

Video Pendidikan Finlandia

Video Pendidikan Finlandia

 

BersambungBagus mana pendidikan Jepang atau Finlandia? (Bagian III)

SumberLupakan Amerika, Pendidikan di Finlandia yang Terbaik Sedunia dengan sedikit editing.

 

61168 x dibaca 🙂 Sahabat punya cerita di tempat lain, yuk kirimkan artikelnya via email ke berita@sekolahjepang.com.

Share SHARE

Rajin Membaca Pangkal Pandai, silahkan Sahabat :

PPI AIDAI (komsat Ehime University), Korda Shikoku, Jepang
Agama punya Kitab Suci, Prefecture Jepang punya aturan
Mensyukuri Indonesia KITA (musim dan suhu)
Kunjungan Kelas dan Festival Budaya di SD Saijo Jepang
Mensyukuri Indonesia kita (menetapi ibadah)
Temanku di dunia maya Jepang
お歳暮 'oseibo' dari Keluarga Kuramoto San
A Trip Going to Dutch
'Nyambi' Tukang Cerita Jepang: "Batu Nisan Ikan Paus"
Lomba Video klip 15 detik: 'From Indonesia with Love: Ganbare Nippon!'
Beasiswa Jepang (MONBUKAGAKUSHO) 2012 untuk Lulusan SLTA
Bahasa Jepang - Bahasa Indonesia (kosakata 1)
Bahasa Jepang - Bahasa Indonesia (kapan/when)
Bahasa Jepang - Bahasa Indonesia (mana, dimana)
30 foto TSUNAMI Jepang, 11-3-2011: sebelum dan sesudah
Bagus mana pendidikan Jepang atau Finlandia? (Bagian III)
Apakah Syarat Kelulusan S3 di Universitas Jepang?
Pengiriman Barang Pindahan Mahasiswa dari Jepang ke Indonesia. Ini Dia Sejarahnya!
Pengurus Baru Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Bisa Apa dalam 2 Bulan?
Selamat tinggal Jepang, 日本さようなら! Terima kasih semua sahabatku 🙂 ありがとうございました
Wawancara LPDP 2016 Mulai Berbahasa Inggris