Studi Banding SD Jepang: “Ini SD lho, bukan universitas!”

Fasilitas SD Jepang dengan kolam renang, lapangan dan gymnasium



SekolahJepang.com, Senang rasanya menemani Ibu Kepala Dinas Pendidikan Provinsi dan Bapak Rektor suatu universitas beserta rombongan yang berkenan jauh-jauh datang ke Ehime, Jepang. Kami tidak mempermasalahkan mengapa beliau memilih studi banding SD di sini, suatu provinsi yang masih semalaman naik bis dari ibu kota Tokyo. Kami juga tidak melakukan demo penolakan atas kedatangannya sebagaimana marak di beberapa negara. Serasa kebetulan, dalam minggu ini Ehime menerima juga kunjungan Gubernur Sulawesi Selatan, BPPT dan PUSPITEK Serpong. Ramai deh! Punya gawe besar!

“Ini SD lho, bukan universitas ….” bisik-bisik rombongan di belakang saat kami mengunjungi laboratorium komputer SD.

Maklum saja, sekitar 30-an PC berjajar rapi memenuhi ruangan komputer itu. 

“PC ini bantuan dari pemerintah kota (shiyakusho) dan setiap 10 tahun mereka akan mengecek kembali apakah ada kerusakan ataukah tidak. Mereka akan menggantinya segera apabila terjadi kerusakan,” jelas Ibu Kepala SD yang kami terjemahkan kemudian dalam Bahasa Indonesia.

Kami mengeksplor satu per satu gedung SD sambil terus berdiskusi. Fasilitas SD, seperti kolam renang dan lapangan merupakan bagian yang tidak boleh terlupakan. 

“Di Jepang pembangunan SD harus sesuai standar. SD Jepang setidaknya mempunyai lapangan dengan luas yang memadai, gedung olah raga dan kolam renang (silahkan melihat gambar di atas). Dengan ketersediaan fasilitas ini diharapkan proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik dan lancar. Siswa pun merasa nyaman berada di sekolah. Bangunan SD juga dipersiapkan sebagai salah satu tempat pengungsian saat bencana melanda. Untuk itu, segala sesuatunya telah dipersiapkan dengan matang.”

Selanjutnya, kami menyambangi ruang perpustakaan SD.

“Anak-anak di sini sangat menanti hari Jumat Bu, karena pada hari itu mereka diperbolehkan meminjam buku perpustakaan sebanyak 3 buku. Lumayan bisa untuk baca-baca selama liburan hari Sabtu dan Minggu,” jelas kami. 

“Wah, mereka hobi membaca ya Mbak,” sambut Ibu Kepala Dinas.

Saat meminjam di perpustakaan, mereka akan dilayani oleh kakak-kakak kelasnya. Tinggal menyodorkan buku yang diincar dan “klik” mesin scan barcode sudah merekam dan mencatat peminjamannya. Tentunya rasa memiliki, melayani dan tanggung jawab dari siswa pun semakin meningkat akibat proses cantik yang diterapkan tersebut. 

“Luar biasa, semuanya sudah terdigitalisasi,” komentar Ibu Kepala Dinas.

Tak kalah hebohnya saat rombongan mencermati metode pembelajaran IPA. Sambil melihat-lihat di kebun SD, kami pun menambahkan penjelasan: 

“Ini adalah tanaman haru yasai (sayuran musim semi) yang baru saja ditanam sendiri oleh setiap anak. Para siswa sebelumnya diminta untuk memilih dan membawa biji/bibit tanamannya sendiri. Mereka harus mampu menjelaskan di dalam kelas mengapa mereka memilih jenis itu untuk ditanam. Untuk itu, dituntut keberanian siswa mengutarakan pendapatnya dan menemukan alasan yang sesuai.” 

Hm … begitu ya, anak-anak Jepang melakukan prakteknya terlebih dahulu baru mengenal konsepnya” sahut Ibu Kepala Dinas. “Kalau di Indonesia kita diajarkan konsepnya terlebih dahulu baru kemudian melakukannya,” lanjut Beliau.

“Tanaman musim panas adalah bla-bla-bla. Jenis tanaman ini antara lain bla-bla-bla. Dia akan tumbuh bla-bla-bla. Kira-kira begitu ya kalau di Indonesia, kelakar kami pagi hari ini di rumah 🙂 “

“Iya Bu, sebelum menanam anak-anak diajak brain stroming: ingin menanam apa, mengapa, dll. Setelah tumbuh (proses berikutnya terjadi) diadakan diskusi lagi. Guru SD memimpin diskusi di dalam kelas antar siswa SD. Mereka masih kelas 2 lho, bahkan hal ini sudah dimulai sejak kelas 1. Guru-guru Jepang juga membimbing siswa apabila arah diskusi melenceng, sehingga akhirnya siswa benar di dalam mengambil kesimpulan.”

Termangu-mangu, nampaknya Ibu Kepala Dinas mulai menarik kesimpulan: “Wah, kalau begitu kita harus terus membenahi SDM guru kita.” Namun buru-buru kami menambahkan: 

“Iya Bu, kualitas guru Indonesia harus terus ditingkatkan. Juga etos kerjanya. Etos kerja guru harus meningkat.”

“Apa penghasilannya yang kurang banyak, sehingga etos kerjanya kurang baik?” Sahutnya kembali. Sebuah pertanyaan yang sulit ditanggapi: “Etos kerja guru memang perlu dibenahi.” 

Sebelum mengakhiri berbagi pengalaman ini, penulis sempat tertegun saat membaca papan nama para tamu yang terhormat. Gelarnya berjajar dari Sabang sampai Merauke. Tentu menjadi pemandangan yang sangat tidak biasa di Jepang. Ibu Kepala SD di sini cukup mengenakan papan nama di dada dengan mencantumkan namanya saja, tanpa embel-embel Prof. Dr., S.Pd., M. Pd

Juga urusan SPPD yang hm

Penulis: Jumiati, mantan Guru SMK Negeri 1 Yogyakarta

 

87009 x dibaca 🙂 Sahabat punya cerita di tempat lain, yuk kirimkan artikelnya via email ke berita@sekolahjepang.com.

Share SHARE

Rajin Membaca Pangkal Pandai, silahkan Sahabat :

PPI AIDAI (komsat Ehime University), Korda Shikoku, Jepang
Kunjungan Kelas dan Festival Budaya di SD Saijo Jepang
Persiapan sekolah dan tinggal di Jepang
A Trip Going to Dutch
Anakku masuk SD Jepang, persiapan apa ya?
Ini dia kegiatan hari pertama kelas I SD Jepang
Beasiswa Jepang (MONBUKAGAKUSHO) 2012 untuk Lulusan SLTA
Corat Coret Lulus Sekolah ala Jepang vs Indonesia
Kateihoumon: Kunjungan Guru Wali Kelas Jepang ke Rumah Orang Tua Siswa
Bagus mana pendidikan Jepang atau Finlandia? (Bagian II)
Bagus mana pendidikan Jepang atau Finlandia? (Bagian IV)
Penerimaan Siswa SD Jarak Jauh Jepang-Indonesia TA 2013-2014
Apakah Syarat Kelulusan S3 di Universitas Jepang?
Pengiriman Barang Pindahan Mahasiswa dari Jepang ke Indonesia. Ini Dia Sejarahnya!
Download Pedoman Beasiswa Pendidikan Luar Negeri S2-S3 DIKTI KEMDIKNAS
Pengurus Baru Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Bisa Apa dalam 2 Bulan?
Bantuan Langsung Sementara Masyarakat di Jepang
Mau Tahu Rasanya Ujian Doktor (S3) di Jepang?
HUT RI ke-68 & Andil Diaspora Indonesia di PPI Jepang
Wawancara LPDP 2016 Mulai Berbahasa Inggris
BELAJAR ZONASI PSB DI JEPANG