Mau Tahu Rasanya Ujian Doktor (S3) di Jepang?

rasanya ujian doktor S3 di Jepang

Gambar: Petugas pengatur waktu saat presentasi doktor UGAS di Jepang



SekolahJepang.com
, Sensasi ujian akhir doktor di berbagai belahan bumi kabarnya nano-nano. Pernah dibantai oleh 5-9 dosen penguji berkali-kali di dalam ujian tertutup ataukah gagal saat ujian terbuka doktor merupakan sedikit cerita yang sayup-sayup terdengar atau tertangkap coretan media. Para doktorlah tentunya yang lebih mengetahui tentang bagaimana yang sebenarnya dan apa yang sesungguhnya terjadi. 

“Bagaimanakah rasanya ujian doktor kemarin Mas?” adalah pertanyaan kali ketiga yang penulis dengar dari seorang mahasiswa S3 tahun pertama atau kedua.

Mimiknya serius dan seakan-akan membayangkan dirinya sendiri berada di tengah-tengah kursi pengadilan akademik itu.

Wah, bagaimana ya ujian doktor saya kelak?” katanya lagi; nampak terselip sedikit/banyak kekhawatiran saat menghadapi ujian doktor nantinya. “Hii ngeriii ….”

“Wajar saja lah kalau sekarang masih khawatir. Mahasiswa doktor tahun pertama kok diminta membayangkan 2-3 tahun lagi kala ujian doktor sedang berlangsung. Jelas menakutkan,” teman di sebelah segera menimpali pembicaraan kami. 

Ujian doktor di Jepang, semisal di salah satu United Graduate School of Agricultural Sciences (UGAS), merupakan puncak dari serangkaian proses panjang dan beberapa tahapan seleksi. Selain mengikuti (sedikit) perkuliahan/seminar dan (banyak) penelitian, mahasiswa doktor UGAS diharuskan (baca: dipaksa) untuk mempublikasikan hasil penelitiannya (minimal) 2 jurnal internasional. Tiga profesor yang ditunjuk dalam penilaian dan komite akademik UGAS akan memutuskan siapa saja yang berhasil lolos seleksi publikasi jurnal dan berhak ke tahap berikutnya, yaitu: pengumpulan disertasi penuh. Kemudian, di dalam dua mingguan tim disertasi akan bekerja mencermati kelayakan sebuah disertasi dan merekomendasikannya: apakah yang bersangkutan dapat mengikuti presentasi dan ujian doktor ataukah tidak. Hm, sampai di sini saja sebenarnya prosesnya sudah lumayan panjang dan melelahkan. Berkas-berkas persyaratan betul-betul harus diisi cermat, termasuk tanda koma, titik, besar kecil huruf, tanda kurung dan sejenisnya. Bila tidak, berkas akan dikembalikan untuk dilengkapi segera. 

“Saya pasrah untuk presentasi besok, yang terjadi ya terjadilah,” ujar salah satu peserta ujian. 

Penulis pun setali tiga uang. Pasrah; tubuh dan otak lelah sudah ber-ganbare ria. Mengapa bisa demikian?

Pertama, persiapan telah lama dilakukan (baca di sini).

Kedua, restu dan doa pun telah dipinta dan dipanjatkan.

Ketiga, proses adalah penting di Jepang. Yang dinilai bukan saja pada presentasi dan ujian doktor di hari H. Namun ingatlah, bukankah Sahabat sudah berkali-kali melakukan presentasi di laboratorium atau di departemen? Bukankah puluhan, bahkan ratusan pertanyaan dan masukan telah disematkan kepada kita ketika itu? Baik yang berhasil ditangkis dengan sempurna maupun yang mulus menghajar muka kita 🙂  Pun seminar dan revisi jurnal internasional telah berkali-kali kita lakukan sebelum ini. Belum lagi proses korespondensi dan tanya jawab bersama editor jurnal internasional yang jumlahnya seringkali membutuhkan jawaban dalam beberapa lembar kertas jawaban. Nah, akan menakutkan sekali bukan apabila kita terbantai di dalam ujian akhir doktor dan ternyata proses panjang selama ini tidak dianggap sama sekali. Pupuslah sudah harapan untuk wisuda. Apa ya ada gaya semacam itu di belahan bumi ini?

Menurut hemat penulis, presentasi terberat sebenarnya adalah pada seminar di tingkat laboratorium, bukan pada presentasi dan ujian doktor yang menakutkan itu. Di dalam seminar laboratorium, profesor, asisten dan semua kolega berpeluang besar membantai (baca: membenahi presentasi dan paper) kita dalam tenggang waktu yang cukup lama, rinci dan kadang sangat keras. Sebaliknya, saat ujian akhir doktor hanya tersedia 10 menit tanya jawab pasca presentasi terbuka plus 40 menit sesudahnya guna tanya jawab terbatas oleh para penguji UGAS. Tetap ada batas waktunya bukan? 

“Ujian doktor kemarin rasanya biasa saja. Memang sempat senam jantung sih, tapi sebentar saja,” komentar salah satu peserta ujian kala itu.

“Lagi pula pengujinya juga pembimbing kita sendiri yang sudah biasa ngopi-ngopi bareng di café depan kampus pertanian. Masak tega-teganya mereka membantai kita,” tambahnya melengkapi.              

Hingga hari ini, yang masih menyisakan teka teki adalah sesi tanya jawab tertutup (terbatas) selama 40 menit oleh 5 orang profesor penguji (3 profesor pembimbing dan 2 profesor penguji dari luar). Nampaknya masih sulit ditebak, namun kadang mengejutkan. Barusan saja, ada mahasiswi S3 yang bebas ujian doktor 40 menit tersebut. 

“Luar biasa, sugeeee,” komentar kami-kami.  

“Mungkin semua penguji sudah tidak lagi penasaran,” lanjutnya lagi.

Pada intinya ujian tertutup 40 menit tersebut tidak jauh-jauh dari korek-mengorek lebih banyak informasi dan lebih detil lagi mengenai hasil penelitian kita dan implikasinya kelak setelah kembali ke Indonesia. Demikian, terus maju tak gentar dan tetap sabar menetapi waktu selama program doktor di Jepang. Insya Allah, semuanya akan berakhir dan manis tepat pada waktunya

Penulis: Atus Syahbudin 

 

52882 x dibaca 🙂 Sahabat punya cerita di tempat lain, yuk kirimkan artikelnya via email ke berita@sekolahjepang.com.

Share SHARE

Rajin Membaca Pangkal Pandai, silahkan Sahabat :

PPI AIDAI (komsat Ehime University), Korda Shikoku, Jepang
Kunjungan Kelas dan Festival Budaya di SD Saijo Jepang
Persiapan sekolah dan tinggal di Jepang
A Trip Going to Dutch
Anakku masuk SD Jepang, persiapan apa ya?
Ini dia kegiatan hari pertama kelas I SD Jepang
Beasiswa Jepang (MONBUKAGAKUSHO) 2012 untuk Lulusan SLTA
Bagus mana pendidikan Jepang atau Finlandia? (Bagian I)
Ini dia alasan tepat ikut ichiji-hoiku (一時保育/temporary day care)
Mengapa & bagaimana perayaan kelulusan SD Jepang?
Corat Coret Lulus Sekolah ala Jepang vs Indonesia
Kateihoumon: Kunjungan Guru Wali Kelas Jepang ke Rumah Orang Tua Siswa
Penerimaan Siswa SD Jarak Jauh Jepang-Indonesia TA 2013-2014
2 Cara Jitu Menjalin Hubungan Sekolah Jepang dan Sekolah Indonesia
Pengiriman Barang Pindahan Mahasiswa dari Jepang ke Indonesia. Ini Dia Sejarahnya!
Beasiswa Sekolah S2-S3 Jepang via LPDP Depkeu-Kemdikbud-Depag untuk Umum Sepanjang Tahun
Bantuan Langsung Sementara Masyarakat di Jepang
Apa sajakah persiapan menghadapi ujian S3 di Jepang?
HUT RI ke-68 & Andil Diaspora Indonesia di PPI Jepang
Wawancara LPDP 2016 Mulai Berbahasa Inggris
BELAJAR ZONASI PSB DI JEPANG