7 Hal yang Gagalkan Wawancara Beasiswa Tesis/Disertasi LPDP

kondisi lokasi meja tes ujian wawancara LPDP STAND 2016

Susunan meja wawancara LPDP di Student Center STAND

Keberhasilan memperoleh beasiswa tesis atau disertasi LPDP sangat ditentukan oleh sesi wawancara. Sesi ini menentukan mutlak 100%, tanpa memasukkan nilai FGD dan penulisan essay. Tiga pewawancara yang terdiri dari 2 akademisi dan 1 psikolog berusaha mencermati 7 komponen beasiswa tesis atau disertasi (baca: 7 komponen beasiswa tesis/disertasi LPDP). Juga kejujuran dan kemampuan Bahasa Inggris peserta tes (baca: wawancara LPDP mulai berbahasa Inggris).


Hindarilah sebisa mungkin 7 hal berikut karena dapat mengakibatkan peserta tes wawancara beasiswa tesis atau disertasi LPDP TIDAK LOLOS:

1. Melebihi 50%

Jangan lupa bahwa dana LPDP sesuai aturan yang sudah disosialisasikan harus dipakai untuk membantu pembiayaan penyelesaian tesis atau disertasi yang belum melebihi 50% pelaksanaan di lapangan. Dana ini juga tidak untuk reimburse atau pengembalian pengeluaran yang sudah dikeluarkan uangnya seperti pembuatan dan penjilidan proposal penelitian. Pembuktian capaian progres penelitian jelas menuntut kejujuran peserta. Lama waktu pasca sahnya proposal penelitian hingga hari wawancara adalah salah satu yang bisa diuraikan secara jujur. Bila tidak, peserta akan jatuh pula akibat ketidakjujurannya. Bila ada kendala, janganlah berbohong, karena menutupinya akan dapat membuka kelemahan lainnya seperti ketidakmampuan memanajemen tata waktu penelitian.

2. Double funding

Menerima lebih dari satu sumber dana guna penyelesaian tesis atau disertasi adalah hal fatal yang tidak perlu dilalaikan. Menurut aturan LPDP hal ini tidak diperbolehkan, semisal: dalam waktu yang sama atau waktu yang beririsan peserta masih menerima beasiswa DIKTI atau beasiswa lain seperti dari universitas luar negeri namun masih mengharapkan tambahan biaya penelitian dari LPDP. Apapun alasannya, termasuk minimnya komponen biaya penelitian di dalam beasiswa DIKTI. Berhati-hatilah juga dengan beasiswa dari universitas luar negeri yang sifatnya gelondongan. Bisa jadi beasiswa tersebut diharapkan juga mendukung penelitian, kecuali jelas-jelas dinyatakan bahwa beasiswa tersebut TIDAK termasuk komponen biaya penelitian.

3. Perincian komponen beasiswa yang kurang jelas

Buat apa membeli buku referensi yang jumlahnya banyak? Belum lagi berharga mahal dalam mata uang dolar? Wajarlah pertanyaan ini muncul karena berharap jawaban yang jelas, bukan kurang jelas atau malah ragu-ragu dan tidak dapat merincinya. Buku A untuk mendukung bab berapa, sedangkan buku B untuk menganalisis bab yang mana. Lalu seperti apakah beda antara buku A dan buku B?

Bila buku yang diajukan berbahasa Inggris, bersiaplah menjawab pertanyaan pewawancara di dalam Bahasa Inggris. Sangat disarankan untuk menampilkan bukti melebihi yang diminta pewawancara seperti memperlihatkan copy atau capture halaman online yang menjual buku tersebut. Jawablah dengan mantab juga tentang peran penting setiap buku bagi penyelesaian setiap bab yang masih tersisa. Yakinkan dan buktikan bahwa buku tersebut sangat berperan di dalam setiap bab.

Hal yang berpotensi menjadi kurang jelas lainnya adalah

1) biaya pembelian tiket pesawat terbang rute luar negeri pp, padahal peserta masih tinggal di luar negeri, bahkan masih menerima beasiswa;

2) pembelian bingkisan bagi responden, baik di dalam maupun di luar negeri. Mengapa bingkisan diperlukan, dalam bentuk apa dan bagaimanakah teknis pemberiannya kepada para responden.

3) biaya penerjemahan artikel dan atau biaya submit jurnal. Bagi mahasiswa yang belum berpengalaman men-submit jurnal mungkin akan kesulitan menjelaskan perbedaan antara biaya penerjemahan artikel dan biaya men-submit ke redaksi jurnal. Angka yang terlalu besar tentulah memancing pertanyaan dan kecenderungan untuk menyesuaikan pas dengan kenyataannya: biaya penerjemahan artikel saja atau biaya men-submit ke redaksi jurnal saja atau kedua-duanya. Belum selesai di sini Sahabat, berapakah jumlah halaman yang akan dibiayai sangat memungkinkan akan ditanyakan. Bersiap-siaplah dengan hal-hal yang detil.



Selanjutnya: 7 Hal yang Gagalkan Wawancara Beasiswa Tesis/Disertasi LPDP (Bagian II)

Penulis: Atus Syahbudin

229 x dibaca 🙂 Sahabat punya cerita di tempat lain, yuk kirimkan artikelnya via email ke berita@sekolahjepang.com.

Share SHARE

Rajin Membaca Pangkal Pandai, silahkan Sahabat :