Esok Aku akan Menikah, Asalkan 4 Soal Ini Selesai

Esok aku akan menikah di Jepang“Yang bener aja kamu besok menikah,” tanyanya padaku penasaran.

“Ya, akhirnya kuputuskan, karena aku tidak menemukan waktu yang tepat untuk menikah,” jawabku sambil tersenyum.

Adakah waktu yang tepat untuk menikah? Pertanyaan singkat ini tidak mudah untuk dijawab. Pasalnya, pada awal tahun ajaran baru, bahkan setiap pergantian semester, aku selalu melihat banyak mahasiswa baru hadir di kotaku. Mereka berparas ganteng-ganteng dan cantik-cantik. Bingung jadinya mau memilih yang mana? Haruskah kutunggu tahun depannya (lagi) untuk menemukan pujaan hati yang lebih muda dan menawan?

Persoalan keduaku adalah aku tak mengenal banyak sahabat. Malu rasanya saat bergaul dengan lawan jenis yang bukan mahromnya. Alih-alih pacaran, ngobrol bersama-sama mereka menjadi hal tak biasa bagiku. Bukankah agama melarang kita untuk berpacaran? Bukankah berduaan dengan lawan jenis di tempat yang sepi akan mengundang provokator ulung nan ahli menjerumuskan ke dalam kemaksiatan, berkat pengalaman panjangnya malang melintang di dunia hitam.

PR ketigaku mungkin umum dijumpai, yaitu masalah ekonomi. Belum punya ini dan itu, belum sukses ini dan itu. Seringkali aku berdebat dengan diriku sendiri tentang status ekonomi yang bagaimanakah sehingga aku memiliki waktu yang tepat untuk menikah? Lama sudah aku memimpikan pekerjaan mapan dan rumah sendiri. Bukankah setelah menikah nantinya suami dan istri akan mempunyai hak dan kewajiban? Pusing juga jadinya.

Kendala terakhirku adalah aku belum siap menjadi ibu bagi anak-anakku. Sahabat karibku pernah menyindirku: “Bagaimana mau siap, setiap harinya saja tidak pernah menyiapkan diri menjadi orang tua.”

Lama sudah aku mendapatkan nasehat dan pituah. Aku hanya bisa belajar dari umumnya orang di sekitarku. Diantara mereka ada yang berhasil, namun ada juga yang berdarah-darah dan berlinangan air mata. Kuakui memang berkaca pada orang tuaku merupakan belajarku setiap hari. Umur berapakah orang tua menikah, apakah ekonomi mereka mapan saat duduk di pelaminan, dan bagaimanakah PDKT-nya, aku sudah mengetahuinya.

Memang kubutuhkan jodoh yang dapat memahamiku apa adanya. Namun siapakah yang dapat menjaminnya dengan pacaran yang lama dan intensif? Siapakah yang dapat menjaminnya dengan ekonomi yang mapan dan usia matang dalam berkeluarga?

Hanya kepada-Nya kupasrahkan segalanya. Istikhoroh dan sholat hajatku adalah andalanku sambil berusaha semampunya dan menabung sebisanya. Dan kini keputusan telah kuambil setelah aku berbicara baik-baik dengan orang tuaku bahwa esok aku akan menikah dengan jodoh pilihan-Nya. Dialah penjaminku dan Dialah yang akan mencukupi hidupku. Karena memang tidak ada waktu yang tepat untuk menikah. Semua jawaban soalnya ada pada-Nya.

Penulis: Atus Syahbudin

219 x dibaca 🙂 Sahabat punya cerita di tempat lain, yuk kirimkan artikelnya via email ke berita@sekolahjepang.com.

Share SHARE

Rajin Membaca Pangkal Pandai, silahkan Sahabat :