METODE PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER ALA JEPANG: CINTA KEBERSIHAN (I)


Metode Pendidikan karakter Jepang patut ditiru, karena karakter universalnya yang unggul dan dikenal luas, seperti: disiplin, kerja keras, jujur, tepat waktu, tertib mengantri dan berlalu lintas, patuh aturan, gemar membaca, cinta kebersihan, dan mandiri. Karakter universal unggul tersebut dapat dengan mudah dijumpai dalam kehidupan sehari-hari di Jepang, meskipun kurikulum pendidikannya secara eksplisit tidak mencatumkan pendidikan agama dan pendidikan moral. Contoh yang pernah penulis alami saat dompet tertinggal di keranjang sepeda yang diparkir di tempat umum. Pada keesokan harinya dompet tersebut masih ada, lengkap dengan uang di dalamnya. Hal ini mencerminkan karakter jujurdengan tidak mau mengambil sesuatu yang bukan hak dan miliknya. Bagaimanakah karakter universal unggul dapat dimiliki oleh setiap pribadi masyarakat Jepang? Bagaimana pula pola sinergi yang dibangun antara keluarga, masyarakat, sekolah, dan pemerintah?

Cinta Kebersihan

Karakter mencintai kebersihan berawal dari keluarga dan dilanjutkan di sekolah, lalu dikontrol masyarakat dan diatur pemerintah. Bila di rumah, orang tua mengajari dan memberikan contoh langsung kepada anak untuk membuang sampah sesuai kategori pemilahannya. Selanjutnya sampah dikeluarkan dari rumah menurut jadwal kategorinya yang diatur oleh pemerintah kota. Petugas dari dinas terkait akan mengangkutnya dengan armada yang memadai. Apabila terjadi kesalahan jadwal pembuangan jenis sampah, maka petugas tidak akan mengambilnya. Namun membiarkan sampah tetap berada di tempatnya dan menuliskan informasi tentang kesalahan yang terjadi. Pada saat inilah masyarakatakan belajar dan mematuhi aturan pemerintah. Tetangga pun mengontrolnya.

Jenis-jenis sampah besar di Jepang

Sedangkan di sekolah, karakter cinta kebersihan siswa diasah setiap hari dengan melakukan souji, yakni setiap hari selama 30 menit membersihkan lingkungan sekolah seusaiguru dan murid makan siang bersama. Dalam pelaksanaannya, siswa dibagi ke dalam regu-regu. Setiap regu terdiri dari beberapa siswa yang berbeda kelas. Bila di SD, setiap regu beranggotakan siswa kelas 1-6 dan diketuai oleh siswa kelas 6. Semua regu disebar sesuai jadwal areanya masing-masing. Adapun area yang dibersihkan mencakup seluruh penjuru sekolah, mulai dari ruang kelas, halaman, perpustakaan, gedung olah raga dan pertemuan, ruang guru, UKS, dapur, koridor, hingga WC/toilet. Dengan diiringi musik penggugah semangat dan reward dari guru menjadikan siswa senantiasa bersemangat dan antusias melakukan soujiTak heran, walaupun sekolah tidak memiliki petugascleaning service, kondisinya tampak bersih, rapi dan terawat. Berkat “souji” yang dilakukan oleh siswa setiap hari, semenjak kelas 1 SD hingga jenjang berikutnya di sekolah serta dibiasakan di rumah dan lingkungan sekitar, tanpa terasa karakter cinta kebersihan tertanam kuat pada setiap masyarakat Jepang.

Penulis: Jumiati, S.Pd.

Guru magang di SMA Ehime University (2009-2010) & Guru Translator di SD Yuzuki Matsuyama Jepang (2012-2013).

56 x dibaca 🙂 Sahabat punya cerita di tempat lain, yuk kirimkan artikelnya via email ke berita@sekolahjepang.com.

Share SHARE

Rajin Membaca Pangkal Pandai, silahkan Sahabat :