Menu Tutup

5 Tips Mengembangkan Desa Wisata Berbasis Budaya di Jaten Ngawi

Buku saku bertajuk Wiyata Wayang merupakan seri buku saku Wiyata Budaya Sahmu Hidayat dan Atus Syahbudin

Tempat wisata banyak dijumpai di Ngawi. Beberapa di antaranya berbentuk desa wisata. Desa wisata sebagai tempat wisata dapat menampilkan keelokan alam pedesaan seperti hamparan sawah, tegakan pinus tertata rapi dan menjulang tinggi, serta gemricik air melimpah dari sumber mata air. Hal ini bisa dijumpai di Srambang park dan Sumber Koso. Sumber Koso merupakan bagian dari Desa Wisata Hijau Girikerto (DeWiGiri) Kecamatan Sine yang diinisiasi oleh KKN-PPM UGM bersama masyarakat Desa Girikerto dan perkebunan teh Jamus PT Candi Loka sejak 2014-2019.

Kini, KKN-PPM UGM Unit Jogorogo bersama masyarakat Desa Jaten, Kecamatan Jogorogo mengembangkan desa wisata berbasis budaya. Berikut ini lima hal pokok telah telah disosialisasikan kepada masyarakat:

1. Daya Tarik

Hal awal yang harus diketahui dalam pengonsepan desa wisata ialah menemukan daya tarik yang membuat desa atau tempat tersebut memiliki branding. Daya tarik utama dalam desa wisata budaya berupa adat istiadat, budaya, dan tradisi masyarakat. Festival Dewi Giri Sumber Koso menjadi Festival Seni Budaya yang dihidupkan kembali oleh KKN-PPM UGM di Desa Girikerto, tepatnya di kawasan Taman Sumber Koso, 3 Februari 2019.

2. Sumber Wisata

Tak kalah penting dalam pengonsepan desa wisata adalah sumber daya wisata. Bila sumber wisata ini berkaitan dengan konsep desa wisata, maka perlu senantiasa ditekankan bahwa sumber wisata tersebut haruslah berada dan menyatu dengan lingkungan masyarakat. Hal ini tidak lain karena desa wisata pasti juga berhubungan erat dengan masyarakat setempat.

3. Tujuan Wisatawan

Prospek pengembangan desa wisata budaya berbanding lurus dengan potensi dan daya tarik budaya yang dimiliki desa. Pada tahap selanjutnya ialah perlu memahami dan mengetahui tujuan dari wisatawan yang datang ke desa tersebut. Bagi desa wisata berbasis budaya, wisatawan mendatangi suatu desa ialah untuk mengetahui dan memahami adat istiadat, budaya, atau tradisi masyarakat setempat.

4. Tujuan Pengembangan

Pengembangan desa wisata budaya perlu selaras dengan tujuan awal dari pendirian desa wisata tersebut. Tujuan awal ini sebenarnya ingin mendorong desa untuk menggencarkan kegiatan pelestarian adat istiadat, budaya, atau tradisi masyarakat setempat.

5. Proses Interaksi

Tujuan akhir yang menjadi puncak pengembangan desa wisata budaya ialah terjadinya proses interaksi antara wisatawan dan masyarakat setempat. Proses interaksi ini menjadikan masyarakat sebagai bagian integral dalam wisata budaya berkelanjutan.

Selama Juni–Agustus 2020, mahasiswa KKN-PPM UGM Periode 2 menjalankan program pengembangan desa wisata budaya di Desa Jaten sepenuhnya dengan metode daring. Demikian halnya kegiatan komunikasi dengan masyarakat setempat dilakukan pula secara daring mengingat keadaan yang tidak memungkinkan untuk datang ke lokasi secara langsung. Desa Jaten merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Jogorogo, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Luas wilayah desa sekitar 318,36 ha yang meliputi 4 dusun: Jaten, Pandak, Jetis, dan Duren.

Mahasiswa pada kesempatan ini berupaya untuk mengembangkan dan melakukan inovasi terhadap kegiatan edukasi budaya yang telah ada. Pengembangan dan inovasi metode pembelajaran yang dilakukan ialah dengan merumuskan konsep buku saku sederhana mengenai aksara Jawa dan tokoh pewayangan sebagai salah satu identitas budaya Jawa. Identitas budaya yang semacam inilah dapat dijadikan sebagai salah satu daya tarik pariwisata. Pengembangan pariwisata berbasis budaya di Desa Jaten dapat mengimbangi sektor agrowisata atau sejenisnya yang akan segera dikembangkan kemudian.

Buku saku bertajuk Trawaca Aksara merupakan seri buku saku Wiyata Budaya Sahmu Hidayat dan Atus Syahbudin
Buku saku Trawaca Aksara oleh Sahmu Hidayat

Program ini dipimpin oleh Sahmu Hidayat, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya UGM Jurusan Sastra Nusantara, dibimbing oleh Atus Syahbudin, Ph.D. (Fakultas Kehutanan) dan Dr. Moh. Masrukhi, M.Hum. (Fakultas Ilmu Budaya) selaku Dosen Pembimbing Lapangan dan Koordinator Wilayah KKN-PPM UGM. Sahmu menyusun buku saku berjudul Trawaca Aksara dan Wiyata Wayang yang merupakan seri buku saku Wiyata Budaya. Secara khusus kedua buku saku disusun untuk mengedukasi pendidikan budaya kepada para siswa di Desa Jaten. Selain itu, Sahmu pun membuat poster Pariwisata Sari Budaya. Program-program tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat dalam rangka mengembangkan desa wisata budaya sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan rating desa sebagai desa wisata budaya.

66 x dibaca 🙂 Sahabat punya cerita di tempat lain, yuk kirimkan artikelnya via email ke berita@sekolahjepang.com.

Rajin Membaca Pangkal Pandai, silahkan Sahabat :

Posted in Desa Wisata Budaya, ECOTOURISM

Artikel Penting Terkait

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

 

ようこそ, dapatkan artikel terbaru:

Terima kasih, selamat bergabung. Salam hormat kami, Atus Syahbudin & admin bersama SekolahJepang.com

Follow

Get every new post delivered to your Inbox

Join other followers