Menu Tutup

Berzina di Luar Negeri, Ini Dia 4 Tips Mencegahnya

Gadis Jepang itu keluar dari kamar mandi apartemen (toire, アパルトのトイレ) hanya berbalut handuk. Waktu itu seorang anak magang Jepang (kenshusei) bertamu untuk mengembalikan barang yang dipinjamnya. Tiba-tiba gadis Jepang itu pamit, masuk ke dalam toire.
“Hai douzo,” ujar gadis Jepang itu sesaat keluar dari toire sambil membuka handuknya. Na’udzubillaahi min dzalika.
Lain waktu, di lantai 5 Fakultas Pertanian Universitas Ehime (nougakubu, 能楽部 愛媛大学), mahasiswa Laos, Salongxai mengeluarkan selembar tiket diskon pertunjukkan malam. Dia pun memamerkannya kepada teman mahasiswa di sebelahnya.

Atus San, please join. There is a discount ticket tonight. We can see Japanese girls. Very cheap!,” ujar Salongxai.

Kedua cerita ini merupakan kehidupan nyata di negeri sakura. Tak diharapkan, namun sungguh-sungguh terjadi. Akibat beda budaya dan agama, gegar budaya pun terjadi. Bersiaplah Sahabat, karena menggapai asa di luar negeri tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.

Baca: Ramai-Ramai Tanpa Busana di Onsen, Berhati-Hatilah!

Tips Sukses Sekolah di Luar Negeri

Tips sukses sekolah di luar negeri tentulah diperlukan untuk menyikapi cobaan-cobaan yang dihadapi. Berikut ini 4 tips untuk mencegah terjadi perzinaan saat berada di luar negeri:

Esok aku akan menikah di Jepang dengan 4 syarat menikah1. Tertib Mengaji. Walau di luar negeri, kegiatan mengaji atau memperdalam kajian agama seperti Al Qur’an dan Al Hadits seyogyanya dijadikan hobi. Tak perlu menghindar atau bahkan merasa bebas berada di luar negeri, bebas sesuka hati. Aktif mengaji mengingatkan Sahabat akan hakekat kehidupan. Pentingnya menggapai surga yang dicita-citakan. Tertib mengaji dapat mempertebal keimanan sebagai benteng terakhir diri Sahabat.

Untuk itu, penting kiranya memastikan negara yang dipilih kondusif pula untuk menjalani kegiatan keagamaan, seperti pengajian rutin, pasca Sahabat sibuk di kampus ataupun di tempat kerja. Apabila mampu, perkirakan juga seberapa jauh jaraknya dan seberapa mahal untuk mencapainya. Ingatlah, pada umumnya biaya transportasi di luar negeri bila dirupiahkan akan terasa sangat mahal. Penghematan diperlukan.

Kesibukan kuliah dan praktikum di kampus haruslah ditimang-timang, sehingga memungkinkan masih tersedianya waktu untuk mengaji. Dalam hal ini perlu wawancara kecil-kecilan mengenai calon supervisor di luar negeri. Nah, yang ini akan dibahas di lain waktu ya ….

2. Sahabat Seiman. Biasalah, selain ngampus, saat di luar negeri Sahabat ingin traveling ke mana-mana. Lihat ini itu, belanja ini itu, dan lain-lain. Pastilah melewati waktu ibadah yang sering kali tidak berada di dekat masjid atau mushola. Sering pula bertatap muka dengan mahasiswa dan mahasiswi asing nan aduhai. Minimal kulitnya lebih terang daripada kulit sawo matangnya Sahabat, he he he.

Sahabat seiman di sisi Sahabat sangatlah membantu untuk saling mengingatkan. Tentang waktu sholat, menjaga pergaulan agar tidak terjerumus pada pergaulan bebas dan perzinaan, memakan makanan haram, dll. Untuk tips mencari Sahabat seiman yang setia diurai lain waktu ya …

3. Berbekal Ilmu Agama. Luar negeri bagaikan negeri antah berantah. Bila minim bekal pengetahuan, Sahabat akan banyak menemui kesulitan, baik berkomunikasi dengan bahasa asing, menyesuaikan dengan budaya setempat, maupun mengonsumsi makanan dan minuman yang serba aneh. Belum lagi ancaman pergaulan bebas.

Berangkat ke luar negeri dengan banyak bekal ilmu agama akan lebih menjamin keselamatan Sahabat, terutama dalam menjaga kefahaman agama agar terhindar dari kemaksiatan. Nah, bersiaplah beberapa waktu sebelum berangkat, mengajilah yang banyak. Seperti mondok di Pondok Pesantren Mahasiswa (PPM) sebagaimana kisah kuliah dan mondok Eka Arief Setyawan, mahasiswa Jogja yang keren. Selain ngampus di ISI, Eka aktif menimba ilmu agama di PPM Ar Royyan Baitul Hamdi. Bisa juga ketika bercita-cita ingin S1 di luar negeri, maka saat masih SMA sambil mondok di Pondok Pesantren Pelajar Mahasiswa.

4. Berpuasa atau Menikah. Kala cobaan pergaulan di luar negeri datang terus bertubi-tubi, maka hendaklah merutinkan berpuasa. Setidaknya puasa akan mengerem keinginan buruk Sahabat. Tetap kalem dan fokus pada cita-cita sesungguhnya sekolah ke luar negeri. Pulanglah dengan membawa gelar sekolah atau modal kehidupan lainnya. Janganlah terperosok dan ambyar semuanya.

Menikah? Bagus itu sebagai solusi menjaga keutuhan iman, sehingga tidak mudah lagi tergoda akan seksi dan gemerlapnya luar negeri. Menikah saat masih di luar negeri memberikan banyak keuntungan. Kapan-kapan lebih rinci lagi akan diulas di SekolahJepang.com.

144 x dibaca 🙂 Sahabat punya cerita di tempat lain, yuk kirimkan artikelnya via email ke berita@sekolahjepang.com.

Posted in AGAMA DAN KEPERCAYAAN, Berendam air panas (Ofuro), Cobaan di Jepang, Ehime University, KENSHUSEI, Kisah kasih kenshusei, Mahasiswa Jepang, SEKOLAH DAN PERNIKNYA, UNIVERSITAS

Artikel Penting Terkait

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

 

ようこそ, dapatkan artikel terbaru:

Terima kasih, selamat bergabung. Salam hormat kami, Atus Syahbudin & admin bersama SekolahJepang.com

Follow

Get every new post delivered to your Inbox

Join other followers